Kita sering mendengar nasihat seperti, “Be present,” atau “Live in the moment.” Filosofi ini dipopulerkan oleh banyak tokoh motivasi dan spiritualitas modern. Namun, bagaimana jika kita membalikkan narasi itu? Bagaimana jika, sesekali, menjadi tidak berada di momen sekarang justru bisa menjadi sesuatu yang berharga?
1. Realitas Saat Ini Bukan Segalanya
Momen saat ini, meskipun penting, tidak selalu ideal. Dalam kondisi stres, tekanan, atau lingkungan negatif, “berada di saat ini” bisa menjadi jebakan mental. Orang yang sedang berada dalam situasi buruk mungkin justru perlu keluar dari momen itu—secara psikologis maupun emosional.
Bayangkan seseorang yang sedang berada dalam hubungan yang toksik atau pekerjaan yang menguras jiwa. Terlalu fokus pada “saat ini” bisa membuat mereka buta terhadap kemungkinan masa depan atau peluang perubahan. Kadang, melamun dan memikirkan masa depan adalah cara jiwa menyelamatkan diri.
2. Visi Butuh Pandangan Jauh
Kemajuan tidak datang dari orang-orang yang hanya hidup untuk saat ini. Mereka yang mengubah dunia justru adalah mereka yang melihat ke depan. Mereka memproyeksikan masa depan, membayangkan dunia yang lebih baik, dan bertindak berdasarkan visi itu.
Menjadi “tidak berada di momen” kadang berarti kita sedang merancang rencana besar. Kita memikirkan jangka panjang, kita mengevaluasi kemungkinan, kita mengimajinasikan versi diri yang lebih baik—bukan hanya menerima versi kita yang sekarang.
3. Masa Depan adalah Motivasi
Orang yang terlalu terpaku pada saat ini bisa kehilangan semangat. Masa depanlah yang sering memberikan alasan untuk bertahan. Harapan akan sesuatu yang lebih baik menjadi bahan bakar untuk melangkah. Menyimpan impian, merancang rencana, dan merenung tentang kemungkinan adalah bagian dari strategi hidup yang sehat.
Membayangkan masa depan bukan berarti kita tidak bersyukur atas saat ini. Tapi itu berarti kita tidak membatasi diri hanya pada realitas sekarang.
4. Melangkah, Bukan Diam
Ketika kita terlalu fokus untuk “berada di sini dan sekarang,” kita bisa kehilangan momentum untuk bergerak. Hidup adalah pergerakan. Pikiran harus lincah, ide harus melompat ke depan, dan perasaan harus diberi ruang untuk berkembang, bahkan jika itu berarti menghindari momen sekarang demi waktu yang lebih baik.
Penutup: Jadilah Arsitek Waktu, Bukan Korban Momen
Menjadi sadar akan momen memang baik. Tapi tidak setiap saat patut dijadikan rumah. Kadang kita perlu membiarkan pikiran kita berkelana, menjelajah waktu, dan membayangkan realitas lain yang ingin kita bangun.
Karena kadang, justru ketika kita tidak berada di momen, kita sedang merancang masa depan yang layak untuk dijalani.













What do you think?
Show comments / Leave a comment